Arti Ikhlas
1
Tidak satupun diantara kaum muslimin yang tidak mempunyai harapan di dalam kehidupan yang abadi diakhirat kelak memperoleh kebahagian dalam surga dan selamat dari kesesengsaraan dalam neraka. Sehingga untuk itu kaum muslimin sejak dini sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk akhiratnya kelak dengan melakukan berbagai macam amalan pendekatan diri kepada Allah Sang Maha Pencipta sebagaimana yang diperintahkan oleh syari’at.
Karena dengan melakukan pendekatan diri berupa amal kebaikan dunia maka kelak mereka di akhirat akan mendapatkan pahala, yang mana dengan pahala yang diperoleh tersebut merupakan kunci untuk memasuki gerbang surga.
I.IKHLAS UNTUK ALLAH SEMATA
Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama
Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”
Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:
Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).
Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.
Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.
Tidak satupun diantara kaum muslimin yang tidak mempunyai harapan di dalam kehidupan yang abadi diakhirat kelak memperoleh kebahagian dalam surga dan selamat dari kesesengsaraan dalam neraka. Sehingga untuk itu kaum muslimin sejak dini sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk akhiratnya kelak dengan melakukan berbagai macam amalan pendekatan diri kepada Allah Sang Maha Pencipta sebagaimana yang diperintahkan oleh syari’at.Karena dengan melakukan pendekatan diri berupa amal kebaikan dunia maka kelak mereka di akhirat akan mendapatkan pahala, yang mana dengan pahala yang diperoleh tersebut merupakan kunci untuk memasuki gerbang surga.
Tetapi sangat disayangkan banyak diantara kaum muslimin dalam melakukan berbagai amalan pendekatan diri kepada Allah di dunia ini hanya didasarkan kepada hawa nafsu dengan meninggalkan ketentuan syari’at yang mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim itu berbuat dalam kesehariannya sehingga akan memperoleh imbalan pahala yang berlipat ganda.
Melakukan berbagai ragam amalan untuk mendekatkan diri kepadas Allah subhanahu wa ta’ala guna memperoleh imbalan pahala sesungguhnya bukanlah berdasarkan kepada sekehendak hati, tetapi harus dilandaskan kepada syarat-syarat tertentu yaitu sebagaimana yang digariskan dalam al-QAur’an dan as-Sunnah.
Para ulama menyebutkan bahwa syarat diterimanya amal kebajikan selain beriman kepada Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk diibadahi secara benar, harus dipenuhi pula dua syarat lainnya yaitu :
1.Mengikhlaskan amalan untuk Allah semata yang tidak ada sekutu baginya.
2.Melakukan amalan pendekatan diri kepada Allah wajiharus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh
Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam ( sesuai dengan sunnah )
Sehingga dengan adanya syarat sebagaimana yang disebutkan diatas, maka amal kebajikan tidak ada faedahnya bagi manusia apabila dilakukan tidak berdasarkan petunjuk dari Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana yang banyak diucapkan oleh orang-orang “ yang penting niatnya karena Allah “
Dalam ulasan berikut ini akan dibahas secara sepintas tentang syarat diterimanya sebuah amal agar diperoleh imbalan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya.
I.IKHLAS UNTUK ALLAH SEMATA
Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama
Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”
Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”
Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian manusia.
Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya'. Riya’ adalah amalan zhohir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.
Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:
Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”
Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.
Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.